Mengenal Kaghas

Mengenal Kaghas

KAGHAS.- Banyak masyarakat yang belum tahu apa kaghas. Kaghas adalah nama lokal untuk pohon gaharu di Sumatera Selatan. Masyarakat Melayu Sekayu menyebutnya dengan Karas. Kaghas memiliki nama ilmiah Aquilaria malaccensis dan dikenal luas dengan nama pohon gaharu. Tumbuh di Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Myanmar, India, Iran, Laos, Filipina, Thailand dan Singapura.

Pohon Kaghas dimanfaat oleh manusia sudah sejak zaman dahulu. Sebagai bahan baku campuran parfum dan wewangian lainnya. Pemanfaatan yaitu dengan mengambil sejenis batang pohon yang menghitam secara alami yang dinamkan dengan Gaharu. Gaharu di dalam batang pohon khagas muncul karena diransang sejenis parasit dari kelompok ascomycetes. Pohon khagas sudah menjadi komoditas perdagangan sejak zaman dahulu dan sekarang.

Selain dimanfaatkan garunya, pohon kaghas juga dimanfaatkan kulitnya oleh masyarakat zaman dahulu. Seperti untuk dinding rumah atau pondok, untuk sejenis tali-temali dengan cara kulit pohon bagian dalam dikupas lalu dipilin-pilin dan menjadi tali (Pulas). Dijadikan abuk atau tali khusus penggendong keranjang. Nah, yang tidak kalah penting sejak masyarakat Melayu di Sumatera Selatan mengenal baca tulis dengan aksara ulu atau aksara kaganga.

Kulit pohon gaharu atau kaghas dijadikan media tulis. Dari hasil tulisan-tulisan yang menggunakan media kulit pohon gaharu meninggalkan warisan budaya yang dikenal dengan naskah ulu, surat ulu, yang disebut kaghas. Waktu berlalu dan zaman berganti. Naskah-naskah surat ulu menjadi warisan budaya saja. Banyak tersimpan pada masyaraka terutama masyarakat pedalaman di Sumatera Selatan. Walau pun sekarang sudah langkah, sebab kurangnya perhatian dimana naskah mulai dimakan usia.

Beruntung, ada beberapa naskah kaghas yang tersimpan di musium Balaputra Dewa atau Musium Negri Sumatera Selatan di Kota Palembang. Penulisan naskah yang menggunakan media kulit pohon gaharu berbentuk kepingan, gulungan, dan lipatan. Paling sering dijumpai naskah kaghas berbentuk tersusun dengan lipatan yang menyatu. Hal demikian karena bentuk pengolahan kulit pohon yang memanjang.

Apabila ditata dengan lipatan naskah dapat dikemas sekecil mungkin dan mudah di simpan atau dibawa kemana-mana. Isi naskah kaghas berupa nasihat-nasihat, cerita, wasiat dan tentang ajaran agama Islam. Selain naskah kaghas yang menggunakan media kulit pohon gaharu. Ada juga naskah-naskah aksara ulu yang ditulis dengan media keras, seperti tanduk kerbau, bilah-bilah bambu (gelumpai), dan bumbung bambu. Peninggalan-peninggalan tersebut bagaikan surat kabar dari masa lalu yang sampai pada masa sekarang. Menjadi berita dan sumber sejarah di kemudian hari. (Red).

Sy. Apero Fublic